Di dapur Indonesia, garam adalah bumbu paling penting. Tapi sekarang ada banyak pilihan garam di toko. Ada garam laut. Ada garam tambang. Ada juga garam Himalaya yang berwarna pink.
Ketiganya sama-sama asin. Ketiganya sama-sama mengandung natrium klorida. Tapi ada perbedaan di cara membuatnya, rasanya, dan harganya. Artikel ini akan membantu Anda memilih garam yang paling cocok untuk kebutuhan Anda.
Asal dan Cara Pembuatan
Garam Laut: Dari Air Laut yang Diuapkan
Garam laut dibuat dari air laut. Caranya sederhana. Air laut ditampung di kolam dangkal. Lalu dibiarkan terkena panas matahari. Airnya menguap perlahan selama beberapa hari. Yang tersisa adalah kristal garam.
Di Indonesia, cara ini sudah dipakai ratusan tahun. Daerah penghasil garam terbesar ada di Madura, Cirebon, dan Pati. Petani garam biasanya bekerja saat musim kemarau. Saat musim hujan, produksi berhenti karena air hujan merusak proses penguapan.
Warna garam laut bisa bermacam-macam. Ada yang putih bersih, ada yang sedikit keabu-abuan. Ini tergantung dari mineral yang ada di air laut setempat.
Garam Tambang: Dari Dalam Bumi
Garam tambang berasal dari dalam tanah. Jutaan tahun lalu, ada lautan yang mengering. Garamnya tertinggal di dalam bumi. Sekarang garam itu ditambang.
Penambangan bisa dilakukan dengan cara digali langsung. Bisa juga dengan menyemprotkan air ke dalam tambang. Air melarutkan garam. Lalu air garam itu dipompa ke atas dan diuapkan.
Tambang garam banyak ditemukan di Amerika, Jerman, dan China. Indonesia sendiri tidak punya tambang garam besar. Jadi garam tambang yang dijual di Indonesia hampir selalu impor.
Kelebihan garam tambang adalah kemurniannya. Karena terkubur jutaan tahun di dalam bumi, garam ini tidak terpapar polusi modern.
Garam Himalaya: Dari Tambang di Pakistan
Garam Himalaya sebenarnya juga garam tambang. Bedanya, garam ini berasal dari satu tempat khusus. Yaitu Tambang Khewra di kaki Pegunungan Himalaya, Pakistan.
Tambang ini sudah ada sejak sekitar 250 juta tahun lalu. Garam di sini berwarna pink karena mengandung mineral besi. Penambangan masih dilakukan dengan cara tradisional.
Tidak semua garam dari Pakistan berwarna pink. Ada juga yang putih atau merah tua. Warnanya tergantung dari jumlah mineral besi di bagian tambang tersebut. Yang dijual sebagai “garam Himalaya” biasanya yang berwarna pink muda.
Kandungan Mineral dan Nutrisi
Semua garam pada dasarnya adalah natrium klorida (NaCl). Tapi kadarnya sedikit berbeda.
Garam laut mengandung sekitar 98% natrium klorida. Sisanya adalah mineral seperti magnesium dan kalium. Jumlahnya tergantung dari mana air lautnya berasal.
Garam tambang biasanya lebih murni. Kandungan natrium kloridanya bisa mencapai 99%. Ini karena garam tambang sudah terbentuk jutaan tahun dan tidak tercampur zat lain.
Garam himalaya mengandung sekitar 98% natrium klorida. Sering disebut mengandung 84 jenis mineral. Tapi 84 mineral itu hanya 2% dari total. Jumlahnya sangat kecil. Menurut penelitian, Anda harus makan garam enam kali lipat dari batas aman harian untuk mendapat manfaat dari mineral tambahan itu.
Jadi dari segi nutrisi, ketiganya hampir sama. Tidak ada yang jauh lebih sehat dari yang lain.
Rasa dan Tekstur
Kalau Anda sering memasak, rasa dan tekstur garam itu penting.
Garam laut punya rasa yang sedikit lebih kaya. Ada sedikit rasa “laut” yang khas. Ini karena mineral alami dari air laut masih ada di dalamnya. Teksturnya bisa halus atau kasar, tergantung pengolahannya. Garam laut kasar cocok untuk taburan di atas makanan.
Garam tambang rasanya paling “bersih” dan langsung asin. Tidak ada rasa tambahan. Teksturnya biasanya sudah dihaluskan. Ini yang paling sering kita pakai sehari-hari sebagai garam halus.
Garam himalaya punya rasa yang lebih lembut dibanding garam biasa. Beberapa orang bilang rasanya sedikit “mineral” atau “bumi”. Teksturnya kasar dan butuh digiling sebelum dipakai untuk masak. Banyak orang menyukai garam Himalaya untuk disajikan di meja makan dengan penggiling khusus.
Harga dan Ketersediaan
Ini perbedaan yang paling terasa di dompet.
Garam laut harganya terjangkau. Di Indonesia, garam laut sangat mudah didapat. Harganya mulai dari Rp 2.000 sampai Rp 5.000 per 250 gram. Ini garam yang paling banyak tersedia di warung dan toko kelontong.
Garam tambang di Indonesia biasanya berupa garam impor. Harganya sedikit lebih mahal dari garam laut lokal. Tapi masih terjangkau. Anda bisa menemukannya di supermarket besar.
Garam himalaya jauh lebih mahal. Harga asli garam Himalaya bisa mencapai Rp 250.000 per kilogram atau lebih. Kalau Anda menemukan garam Himalaya yang sangat murah, kemungkinan besar sudah dicampur garam biasa.
Garam Himalaya harus diimpor dari Pakistan. Itu sebabnya harganya mahal. Untuk masak sehari-hari, ini bukan pilihan yang ekonomis.
Keamanan dan Kebersihan
Ada satu hal yang jarang dibahas: kontaminasi.
Garam laut bisa mengandung mikroplastik. Ini karena air laut sekarang sudah tercemar plastik. Sebuah penelitian menemukan bahwa 94% garam laut yang diuji mengandung partikel mikroplastik. Jumlahnya kecil, tapi ini fakta yang perlu diketahui.
Garam tambang dan garam Himalaya juga tidak sepenuhnya bebas kontaminan. Penelitian di Australia menemukan bahwa garam Himalaya justru mengandung mikroplastik lebih tinggi dari garam laut. Ini kemungkinan terjadi saat proses pengolahan dan pengemasan.
Untuk semua jenis garam, yang terpenting adalah memilih garam yang sudah memenuhi standar keamanan pangan. Di Indonesia, cari garam yang sudah beryodium dan memiliki izin edar dari BPOM. Perhatikan juga label kemasannya. Garam yang baik punya nomor SNI dan tanggal kedaluwarsa yang jelas.
Mana yang Terbaik untuk Anda?
Tidak ada jawaban yang sama untuk semua orang. Tergantung kebutuhan Anda.
Untuk masak sehari-hari, garam laut lokal yang sudah beryodium adalah pilihan paling praktis. Mudah didapat, harganya murah, dan sudah diperkaya yodium yang penting untuk kesehatan.
Untuk taburan atau finishing, garam Himalaya atau garam laut kasar bisa memberikan tekstur dan rasa yang menarik. Tapi ini lebih untuk variasi, bukan kebutuhan.
Untuk pengawetan, garam laut kasar atau garam tambang tanpa yodium lebih cocok. Yodium bisa mengubah warna dan rasa makanan yang diawetkan.
Untuk kesehatan, ketiganya hampir sama. Yang lebih penting adalah mengontrol jumlah garam yang Anda konsumsi. WHO merekomendasikan maksimal 5 gram garam per hari. Jenis garamnya tidak terlalu berpengaruh.
Intinya, jangan terjebak oleh harga mahal atau klaim kesehatan yang berlebihan. Garam laut lokal yang sudah beryodium dan disimpan dengan benar sudah cukup baik untuk kebutuhan dapur Anda sehari-hari.